Pages

Labels

JKT12 TOUR AND TRAVEL. Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 10 Oktober 2013

Kabupaten Purwakarta

Ciri khas dari kota purwakarta pada masa penjajahan belanda:
Masjid Agung Purwakarta pada tahun 1920-1935 (dibangung atas perintah Raden Tumenggaung Aria Sastradipura I, bupati ke-12, menjabat tahun 1854-1863)
Antara tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada Gubernur Jendral Van Der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di sebelah Timur sungai Citarum/Cibeet dan sebelah Barat sungai Cipunagara.Dalam hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung. Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem Santri yang kemudian memilih ibukota kabupaten di Wanayasa.




Pendopo Kabupaten Purwakarta Tahun 2009

Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih yang diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.
Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, Pembuatan Gedung Karesidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.

Objek wisata yang ada di kota purwakarta:

Wisata alam yang ada di purwakarta:
·        Waduk Jatiluhur, dengan luas 8.300 ha terletak ±9 km dari kota Purwakarta menawarkan sarana rekreasi dan olahraga air yang lengkap dan menarik seperti : dayung, selancar angin, ski air, power boating, perahu layar, dan kapal pesiar. Fasilitas yang tersedia adalah hotel dan bungalow, bar dan restoran, lapangan tenis, kolam renang dengan water slide, gedung pertemuan dan playground. Bagi wisatawan remaja, tersedia pondok remaja serta lahan yang cukup luas untuk kegiatan outbond dan perkemahan yang letaknya diperbukitan diteduhi pepohonan. Di perairan Waduk Jatiluhur ini juga terdapat budi daya ikan keramba jaring apung yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau malam kita dapat memancing sambil menikmati ikan bakar. Khusus untuk educational tourism, yang ingin mengetahui seluk beluk waduk ini, Perum Jasa Tirta II menyediakan tenaga ahli.
·        Danau Cirata, dengan luas 62 km2 berada pada ketinggian 223 m DPL dikelilingi oleh perbukitan. Jika melakukan perjalanan dari kota Purwakarta melalui Plered, akan tiba di Cirata dalam waktu ±40 menit dengan jarak sejauh 15 km. Dalam perjalanan akan melewati pusat perdagangan peuyeum Bendul dan Sentra Industri Keramik Plered disamping menikmati keindahan alam di sepanjang jalan Plered-Cirata.
·        Situ Wanayasa adalah danau alam yang berada pada ketinggian 600 m DPL dengan luas 7 ha, terletak ±23 km dari kota Purwakarta dengan udara yang sejuk berlatar belakang Gunung Burangrang.
Wisata Budaya:
  • Gedung Negara, dibangun tahun 1854 pada masa kolonial Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Kini Gedung Negara menjadi Kantor Bupati Purwakarta.
  • Gedung Karesidenan, seusia dengan Gedung Negara dibangun pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Kini menjadi Kantor Badan Koordinasi Wilayah IV terletak di Jalan KK. Singawinata.
  • Mesjid Agung, terletak di samping Gedung Negara dibangun pada tahun 1826 pada masa kolonial Belanda. Mesjid ini mulai dipugar pada tahun 1993 dengan tetap mempertahankan bentuk asli dan nilai sejarahnya, kemudian diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada tahun 1995.
  • Sentra Industri Keramik Plered, terletak di Desa Anjun ±13 km dari kota Purwakarta. Industri ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1904 menghasilkan keramik berkualitas diekspor ke manca negara antara lain Jepang, Belanda, Thailand, dan Singapura. Jenis keramik yang dihasilkan antara lain gerabah, terakota dan porselen.
Kuliner yang ada di purwakarta:
1.Sate Maranggi
Pada mulanya sate maranggi yang terkenal adalah Maranggi Mang Udeng yang berjualan di Kecamatan Plered, tepatnya disekitar terminal Plered. Kemudian berkembang tempat-tempat jualan sate maranggi lainnya mulai dari daerah Wanayasa, Bojong sampai ke Bungursari.
Sate maranggi biasanya terbuat dari daging kambing atau daging sapi. Cita rasa yang membedakan sate maranggi dengan sate lainnya adalah bumbunya terbuat dari kecap yang memiliki cita rasa paduan manis, asam, dan pedasyang menyentuh lidah kala menikmati sate berbumbu khas ini. Paduan rasa yang menggoda selera ini muncul karena bumbu sate maranggi terbuat dari kecap, sambal cabai hijau ditambah sedikit cuka lahang (cuka yang terbuat dari tebu). Saat disajikan, bumbu kecap itu dilengkapi dengan irisan bawang merah dan tomat segar. Biasanya sate maranggi dihidangkan dengan ketan bakar atau nasi timbel.
Rumah makan atau tempat jualan sate maranggi yang cukup terkenal saat ini adalah Sate maranggi H. Oking di Wanayasa, Sate Maranggi Cihuni, sate maranggi Haji Rasta di Cibungur, sate maranggi Anwar di Pondoksalam, sate maranggi H. Nadi di Cibogo Kecamatan Plered dan Saung marangi di Jl. Kapten Halim. Di masing-masing tempat ada sedikit perbedaan rasa dan penyajian, tapi yang jelas semuanya mempunyai predikat…… ma’nyus….lazisss.
2.Ayam Goreng dan Sambel Sajolna
Apabila anda menyusur jalan Basuki Rahmat tidak jauh dari jembatan Cikao, tepatnya Jl Letjen Basuki Rahmat 157Purwakartaada rumah makan dengan nama ‘Sajolna’. Rumah makan ini bermula hanya sebuah warung makan kecil. Tapi lambat laun, karena banyak yang suka dengan sambel dadakan dan ayam goreng yang gurih dan nikmat, rumah makan makan iniberkembang menjadi rumah makan yang cukup besar.
Ayam goreng yang disajikan mempunyai cita rasa yang khas, ada rasa manis gurih dengan ayam kampung yang sangat empuk. Dipadu dengan rasa sambel hejo yang pedas segar, dijamin pengunjung akan ketagihan untuk kembali datang ke rumah makan ini.Menu lainnya adalah ikan mas goreng, sayur lalab mentah maupun yang sudah direbus, goreng peda, karedok dan makanan khas sunda lainnya.
3.Rumah MakanCiganea
Pada mulanya rumah makan Ciganea ini merupakan rumah makan tempat istiratahatperjalanan bis antar-provinsi, yaitu rute Jakarta-Bandung atau sebaliknya. Namun setelah bebarapa tahun silam, khususnya setelah jalan tol Cipularang dioperasikan, rumah makan ini tidak lagi menjadi tempat istirahat bis antar-provinsi. Pengunjungnya adalah kalangan menengah atas yang memang warga Purwakarta atau dari luar Purwakarta.
Lokasi rumah makan ini cukup strategis, yaitu tepat arah pintu keluar Jatiluhur jalan tol Cipularang. Oleh karenanya banyak para pengunjung rumah makan ini, yang sengaja singgah untuk makan, dalam perjalanannya menuju Bandung atau Jakarta via jalan tol Cipulrang.
Rumah makan ini menyajikan menu hidangan masakan khas Sunda. Ada goreng ikan mas, goreng ayam, gepuk, sayur asam dintambah sambel terasi dan sebagainya.
4.Rumah makan ‘Soto Sadang’
Rumah makan ini dinamakan Soto Sadang, karena memang lokasi awalnya terletak di Sadang Purwakarta. Tepatnya di persimpangan jalan raya menuju Jakarta dengan rel kereta api. Tapi semenjak dibangunnya jalan layang, rumah makan ini pindah ke arah kota Purwakarta, yaitu di Jalan Veteran.
5.Rumah Makan Lainnya
·Rumah makan ‘sambel hejo’ memiliki ciri khas yaitu sambel cabe hijau dan cabe gendot yang lumayan pedasnya. Juga perkedel goreng berbentuk bulat seperti bakso yang sangat gurih rasanya dan garing. Selain itu juga tersedia sop buntut yang sangat lezat. Lokasi rumah makan ini persis berdampingan dengan rumah makan Ciganea. Pengunjung dipersilahkan memilih hendak dimana makan. Tapi yang jelas kedua rumah makan ini, mempunyai hidangan yang cita rasanya sulit dilupakan.
·Rumah makan Ibu Haji Ciganea. Ciri khas rumah makan ini adalah goreng ikan mas yang gurih dan goreng ikan mas kecil yang renyah karena digoreng kering. Selain goreng ikan mas, di rumah makan ini juga tersedia menu hidangan masakan khas Sunda lainnya berikut lalap-lalapannya. Seperti Ayam goreng kampung, gepuk, perkedel jagung atau udang, pencok kacang panjang atau pencok leunca ekstra pedas. Tak lupa, menurut pendapat banyak pengunjung, yang istimewa di Ciganea, tentu lalabnya yang direbus matang. Penggemar daun singkong, daun pepaya dan waluh rebus, bakal dimanjakan di tempat ini.Lokasi rumah makan ini bisa ditemui di Jalan Veteran Purwakarta atau di Jalan Raya Pramuka yang menjadi jalur Bandung- Purwakarta tidak melalui jalur tol Cipularang.
·Rumah makan ‘Ibu Haji Ani’ lokasinya di jalur jalan Ir. Haji Juanda atau jalan menuju ke arah Bendungan Jatiluhur. Menu hidangan utama rumah makan ini adalah berbagai aneka pepes. Ada pepes ikan mas, pepes ikan teri, pepes jeroan, pepes ayam dan sebagainya. Pokoknya keinginan pengunjung akan segala macam pepes, dapat ditemui di rumah makan ini.
·Rumah makan ‘Pak Yadi’. Rumah makan ini terkenal dengan ikan bakar betutu yang enaknya luar biasa. Ikan betutu yang bentuknya mirip ikan sapu-sapu dalam ukuran besar, memiliki keunikan tersendiri. Ikan ini hidup di tepian danau Jatiluhur, tidak diternakan. Ditangkap dengan cara dipanjcing atau dijaring. Ikan ini mampu bertahan hidup di darat selama delapan jam tanpa diberi air sedikitpun. Kelebihan dari ikan bakar batutu adalah dagingnya yang tebal, empuk, gurih dan memiliki kadar protein tinggi. Selain ikan bakar Betutu, tersedia juga ikan bakar dari berbagai jenis. Bahkan ayam bakar pun ada (biasa disebut ‘bakakak’). Rumah makan ini berada tepat di tepi danau Jatiluhur, tepatnya di Kawasan wisata Jatiluhur.
*) Sebenaranya masih banyak tempat-tempat makan yang enak dan khas di Purwakarta, namun karena keterbatasan waktu peliputan, artikelnya akan kami muat dalam kesempatan lain
Aneka Jajanan Khas
Belum lengkap rasanya jika berkunjung ke Purwakarta pulang tanpa membawa oleh-oleh. Makanan khas yang sering dijadikan oleh-oleh adalah Simping. Cemilan ini berbentuk lingkaran pipih, umumnya berwarna putih dan sangat renyah. Bahan utamanya terbuat dari campuran tepung terigu dan tapioka yang dibentuk adonan, kemudian dipanggang dengan alat khusus. Sentra produksinya ada di daerah Kaum Purwakarta, tidak jauh dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Purwakarta. Simping tersedia dengan aneka rasa, ada rasa pandan, nangka, cabai, bawang, udang, keju, kencur, pisang dan susu.
Selain kue simping, ada juga penganan unik lainnya, yaitu Tape Bendul (Sunda: Peuyeum Bendul). Tape bendul terbuat dari bahan baku singkong, diberi ragi dan difermentasi selama satu malam. Peuyeum Bendul ini berbeda dengan tape umumnya, bentuknya lebih besar dan dijajakan dengan digantung. Pemandangan Peuyeum Bendul ini bisa dilihat jika melintas dari Cikampek lalu menyusuri Jalan Raya Bungursari, di kiri kanan jalan akan terlihat warung-warung makanan yang menjual Peuyeum Bendul itu. Demikian pula bila menyusuri jalan raya di Wilayah Kecamatan Darangdan dari Bandung Menuju Purwakarta, di kira kanan jalan juga banyak didapati warung-warung makanan yang menjual Peuyeum Bendul. Jenis tape ini banyak dipruduksi di daerag Desa Sukatani dan Desa Cibodas.

Jajanan khas lainnya adalah gula aren Cikeris, manisan pala, teh hijau, colenak, dan opak. Tak ketinggalan pula di Purwakarta terdapat buah Manggis yang berbeda dengan rasa manggis dari daerah lain. Buah manggis ini sudah diekspor keluar negeri, karena terkenal dengan rasanya yang manisdan segar.
Keunikan yang ada di purwakarta:
1. Gedung Keresidenan
Gedung Karesidenan berada di Jl. K.K. Singawinata sebelah selatan Situ Buleud. Secara administratif termasuk di wilayah Kampung Upas, Kelurahan Nagri Kidul, Kecamatan Purwakarta. Pembangunan Gedung Karesidenan berkaitan erat dengan position Purwakarta sebagai ibukota Karesidenan Karawang. Pada awal masa pemerintahan Bupati Sastra Adiningrat I (tahun 1854), Purwakarta menjadi ibukota Keresidenan Karawang. Akan tetapi, untuk beberapa waktu lamanya, residen Karawang tetap berkedudukan di kota Karawang. Dalam waktu tertentu ia datang ke Purwakarta. Hal itu disebabkan di kota Purwakarta belum dibangun gedung keresidenan dan belum ada sarana transportasi yang memadai. Kedudukan kota Purwakarta sebagai pusat pemerintahan keresidenan, telah menimbulkan perubahan situasi kota tersebut. Sejak waktu itu dinamika kehidupan di kota Purwakarta makin mengarah pada kehidupan modern. 


Gedung Keresidenan
Gedung Keresidenan di Purwakarta baru dibangun seiring dengan pembangunan jalan kereta api antara Batavia â€" Padalarang lewat Purwakarta pada awal abad ke-20. Jalur kereta api Karawang â€" Purwakarta (41 kilometer) diresmikan tanggal 27 Desember 1902. Jalur itu sampai di Padalarang tahun 1906. Dengan demikian, gedung keresidenan di Purwakarta mungkin dibangun sekitar tahun 1902.
Setelah gedung keresidenan selesai dibangun dan transportasi kereta api Batavia â€" Padalarang lewat Purwakarta dibuka, residen Karawang pindah dari Karawang ke Purwakarta. Keberadaan gedung keresidenan dengan arsitektur modern, mengubah suasana kota mengarah ke kota modern.
Bentuk dan gaya bangunan itu mirip dengan Gedung Pakuan (bekas Gedung Keresidenan Priangan) di kota Bandung. Lantai bangunan ditinggikan sekitar 0,5 m dari halaman. Untuk memasuki bangunan utama terdapat dua jalan berupa tangga yang terdapat di bagian tengah. Ruangan yang berada fencing depan merupakan serambi terbuka beratap seperti kanopi dari bahan seng. Tiang penyangga atap serambi berbentuk segi delapan dengan gaya khas kolonial dari bahan kayu. Pembatas serambi depan bagian bawah merupakan semacam pagar kayu bermotif trawangan. Pada bagian serambi depan ini terdapat dua kamar yang berada di ujung kanan dan kiri. Pintu masuk kamar berhadap-hadapan pada sisi dalam. Jendela kamar berdaun ganda. Daun jendela bagian luar merupakan jendela kayu disusun bersap-sap (jalusi) dan bagian dalam jendela kaca. Serambi dan ruang dalam dihubungkan oleh pintu depan yang bentuknya seperti pintu kamar. Atap bangunan utama dari bahan genteng berbentuk persegi. Antara atap bangunan utama dan atap serambi terdapat lubang ventilasi yang ditutup dengan ukiran kayu trawangan bermotif bintang atau bunga bersudut. Hiasan seperti ini juga terdapat pada bagian samping.
Di kanan dan kiri bangunan utama terdapat bangunan semacam paviliun beratap rumah kampung memanjang ke belakang. Antara pavilyun dan bangunan induk dihubungkan melalui koridor terbuka (doorloop). Sekarang gedung Karesidenan difungsikan untuk kantor Badan Koordinasi Wilayah Purwakarta.
3. Gedung Negara
Gedung Negara yang dibangun semasa zaman kolonial Belanda tahun 1854 dengan gaya arsitektur Eropa, kini berdiri megah sebagai Kantor Bupati Kabupaten Purwakarta, tepatnya di Jalan Gandanegara No.25. Disamping gedung ini arsitekturnya antik, juga memiliki nilai sejarah perjuangan bagi masyarakat Purwakarta, baik di masa Pemerintahan kolonial Belanda maupun Pemerintahan Jepang.


Gedung Negara
4. Stasiun KA
Salah satu bangunan pusaka lainnya di Purwakarta yang bisa Anda kunjungi dan lihat dari dekat adalah stasiun kereta api, yang dibangun secara bertahap pada masa kolonial Belanda antara tahun 1881-1884 dan diresmikan pada tanggal 27 Desember 1902. Bangunan ini memiliki arsitektur yang khas sesuai dengan fungsinya. Sampai saat ini, bangunan ini tidak mengalami perubahan. Jika Anda berkesempatan mengunjungi stasiun ini, jangan lupa untuk membawa kamera karena ada beberapa sudut yang bagus untuk fotografi. Atau bila tersedia waktu lebih banyak, buatlah tur stasiun kereta api dengan memasukkan unsur Stasiun KA Purwakarta sebelum melanjutkan ke daerah sebelum metropolis yang memiliki image menakjubkan. 


Stasiun KA

Kesenian dan kebudayaan kota purwakarta:
1. Kuntulan
      Seni Kuntulan merupakan seni yang bernafaskan islami, berbentuk waditra qosidah atau tagoni diiringi musik dan tarian bernuansa silat. Para pemainnya berbaris seperti burung kuntul, menyuguhkan jurus-jurus silat atraktif, sementara penabuhnya menyanyi sambil menari. Jumlah pemain sebanyak 22  orang, memakai pakaian pangsi, jubah putih-putih dan peci kerepus.  Alat kesenian yang dimainkan, adalah genjring dan bedug besar. Waktu pementasan sekitar 30 menit.  Fokus atraksinya terletak pada ketangkasan gerak dalam gerak memainkan 11 jurus silat Sechbandar. Jamiatu Suban yang beralamat di Dusun Sukahaji Kelurahan nagri Kidul, adalah salah satu grup   kesenian Kuntulan yang  telah memiliki nama dan reputasi. 

    2. Buncis
Seni Buncis merupakan seni atraktif dan variatif, karena terdapat unsur seni tabuh, dog-dog, angklung, nyanyian, tarian lawak dan cerita tradisional.  Pemain pria, memakai celana pangsi, baju kampret dan kain ikat kepala.   Wanitanya memakai kain sinjang, baju kebaya, rambut disanggul.  Lama pentas sekitar satu jam.  Alat musik yang dipergunakan hampir sama dengan kesenian angklung atau karawitan lainnya kecuali dog-dog kecil dan 3 buah angklung serta dipadukan dengan gamelan (saron, boning, angklung, terompet dan bedug besar).  
      Seni Buncis dimainkan oleh satu orang penabuh dog-dog, tiga orang memegang angklung dibantu  tujuh nayaga serta enam  orang pemain pemeran cerita.  Fokus atraksi yang menarik dari dari seni buncis ini, terletak pada irama dan gerak serta pesan-pesan yang disampaikan melalui dialog humor (lawak).
      Grup Wikara yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat,Gang Rusa IV.11 Purwakarta, merupakan salah satu grup kesenian Buncis yang telah memiliki nama dan reputasi, baik pada tingkat lokal, propinsi maupun nasional.  Seni Buncis sangat cocok dipentaskan bagi kebutuhan dalam acara syukuran, pernikahan, helaran dan penyambutan tamu pengunjung/wisatawan yang berkunjung di Purwakarta.

Keindahan yang ada di kota atau kabupaten purwakarta: mereka memiliki berbagai objek wisata yang tidak kalah menariknya dari tempat objek wisata yang anda kunjungi, sudah saya paparkan di atas kenapa purwakarta tidak kalah menarik dari objek-objek wisata yang sudah ada dimana purwakarta mempunyai kuliner yang khas yaitu Sate Maranggi pada mulanya sate maranggi yang terkenal adalah Maranggi Mang Udeng yang berjualan di Kecamatan Plered, tepatnya disekitar terminal Plered. Kemudian berkembang tempat-tempat jualan sate maranggi lainnya mulai dari daerah Wanayasa, Bojong sampai ke Bungursari. Dan masih banyak lagi kuliner-kuliner yang bisa menggoyang lidah para wisatawan yang datang ke kota kami.

Selain itu ada objek wisata alamnya yang tidak kalah juga yaitu Waduk Jatiluhur, dengan luas 8.300 ha terletak ±9 km dari kota Purwakarta menawarkan sarana rekreasi dan olahraga air yang lengkap dan menarik seperti : dayung, selancar angin, ski air, power boating, perahu layar, dan kapal pesiar. Fasilitas yang tersedia adalah hotel dan bungalow, bar dan restoran, lapangan tenis, kolam renang dengan water slide, gedung pertemuan dan playground. Bagi wisatawan remaja, tersedia pondok remaja serta lahan yang cukup luas untuk kegiatan outbond dan perkemahan yang letaknya diperbukitan diteduhi pepohonan. Di perairan Waduk Jatiluhur ini juga terdapat budi daya ikan keramba jaring apung yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau malam kita dapat memancing sambil menikmati ikan bakar. Khusus untuk educational tourism, yang ingin mengetahui seluk beluk waduk ini, Perum Jasa Tirta II menyediakan tenaga ahli.

Ini masih sebagian yang kami info kan kepada para wisatawan untuk lebih lanjut silahkan bapak, ibu, sdr/i datang ke purwakarta tempat kami berada, dan kami jamin para wisatawan yang datang ke tempat kami purwakarta tidak akan rugi dan biasa aja melainkan mau datang kembali dan mengajak teman, saudara, atau komunitasnya untuk datang ke purwakarta.



Yosef Boris dan Ferdinan 

0 komentar:

Posting Komentar